Hari ini, di sebuah ruang sidang, berlangsung pengadilan dengan terdakwa seorang pembunuh yang telah menghabisi korbannya dengan sadis.
Para jaksa berkumpul, bersemangat untuk memasukkan sang pembunuh ke penjara mereka. Sementara para pengacara bersemangat pula membelanya. Dan para hakim terbaik dikerahkan untuk menjatuhkan putusan yang paling adil bagi kemanusiaan.
Orang-orang sesak memenuhi ruangan ingin menyaksikan secara langsung jalannya persidangan.
“Tuan Hakim yang mulia, kami para jaksa menuntut terdakwauntuk di hukum mati. Ia telah melanggar undang-undang kita yang paling berat. Ia telah melanggar kemanusiaan dengan membunuh orang lain secara keji.”
“Tapi tuan hakim yang mulia, sebelum menjatuhkan putusan, kita harus melihat dulu penjelasan yang diberikan terdakwa mengapa ia membunuh.ia membunuh bukan untuk anti kemanusiaan melainkan demi kemanusiaan.
“Ini penting yang mulia. Kita harus melihat apa alasannya membunuh. Jangan sampai kita melakukan sebuah kesalahan dalam pengadilan ini” lanjut pengacara berargumen.
“Kita sudah tidak perlu lagi berdebat. Bukankah si terdakwa sudah mengaku sendiri melakukan pembunuhan. Kita jangan sampai membuang-buang waktu percuma demi satu kasus yang sudah jelas permasalahannya. Masih banyak kasus-kasus lain yang perlu di selesaikan demi keadilan yang abadi, Yang mulia.”
“Anda tidak bisa berkata demikian saudara jaksa” gugat pengacara.
Para pengunjung bertepuk tangan riuh menyaksikan perseteruan antara jaksa dan pengacara.
Tok! Tok! Tok!
“Sidang ini bukan pasar ternak. Saya peringatkan kepada semua peserta sidang, tolong hormati persidangan ini dan gunakan aturan-aturan persidangan yang berlaku!” jelas Hakim meninggi.
“Demi keadilan yang abadi, kami, para hakim, memberi kesempatan kepada terdakwa untuk menjelaskan alasannya membunuh korban. Silahkan saudara Terdakwa” lanjut Hakim.
“Terima kasih, Yang mulia” ucap para pengacara.
Maka mulailah sang terdakwa menjelaskan alasannya membunuh.
“Beberapa bulan yang lalu korban bercerita kepada saya bahwa ia sedang mendapatkan sebuah permasalahan yang sangat berat. Ia melakukan korupsi namun kemudian terbongkar. Ia takut dipenjara dan tak mampu mengganti rugi seluruh uang korupsinya. Ia menangis dihadapan saya. Saya sedih, Yang mulia. Sedih melihatnya menangis seperti itu. Lalu saya menyarankannya untuk pulang dan menenangkan diri. Berpikir untuk mencari jalan keluar tapi tetap saja ia selalu kembali lagi menemui saya dan menceritakan seluruh masalahnya tersebut. Setiap kali datang ia tampak semakin tertekan, ia bahkan pernah menangis semalaman di pangkuan saya. Saya sungguh kasihan kepadanya yang mulia. Saya tidak tega menyaksikannya demikian.
“Kejadian ini terjadi berulang-ulang selama beberapa bulan. Semakin hari badannya semakin kurus, matanya semakin cekung. Saya tidak tega untuk melihatnya. Akhirnya suatu malam saya berpikir keras bagaimana untuk menyelasaikan permasalahan ini agar dia bisa kembali tenang dan bahagia. Cukup lama saya memikirkan jalan keluarnya namun akhirnya jalan itu saya temukan juga. Lalu saya susun rencana untuk menjalankannya. Memutuskan waktu yang tepat, mempersiapkan segala alat-alat yang diperlukan dan menyusun strategi untuk menjalankannya.
“Hingga pada suatu malam saya merasa inilah waktu yang tepat untuk menjalankan rencana saya. Saya meneleponnya, menyuruhnya datang ke tempat saya dan memberitahu bahwa saya sudah menemukan solusi untuk masalahnya. Ia gembira sekali, Yang mulia. Saya jadi merasa sungguh senang dan semakin yakin akan keputusan saya.”
“Lalu apa yang terjadi setelah dia datang ke tempat saudara? Apa yang saudara lakukan kepadanya?” tanya para hakim mendesak.
“Saya memukul kepalanya hingga pingsan, lalu saya memotong tubuhnya kecil-kecil dan menyimpannya di kulkas saya. Daging-daging itu ada yang saya gulai, rendang atau goreng atau tergantung saya mau memasaknya bagaimana. Saya melakukan itu untuk menghindari kecurigaan orang-orang atas ketak-hadirannya. Jika ada yang bertanya, saya menjawabnya dengan mengatakan bahwa saya tidak tahu, mungkin saja dia sudah melarikan diri keluar negeri.
“Begitu yang mulia. Itu semua alasan kenapa saya percaya bahwa saya membunuhnya demi kemanusiaan. Saya tidak tega menyaksikannya tersiksa demikian berat. Terima kasih atas waktu yang telah yang mulia berikan pada saya untuk menjelaskannya.”
“Yang mulia, sudah kita dengar sendiri apa alasan Terdakwa. Dia membunuh korban dengan alasan kemanusiaan jadi kami pikir sangat tidak lazim jika terdakwa harus dihukum mati. Bahkan Terdakwa seharusnya diberikan penghargaan atas tindakannya tersebut.”
“Tuan hakim yang mulia. Sungguh tidak wajar semua alasan yang diberikan oleh Terdakwa dan Pengacarannya. Tidak ada kemanusiaan yang melegalkan pembunuhan secara keji seperti itu.”
“Kemanusiaan tak dapat dilihat dari satu sisi. Ia harus dilihat dari seluruh sisinya. Kadangkala kemanusiaan membutuhkan pengorbanan pula. Jadi tidak tepat apa yang dikatakan oleh jaksa tadi. Kasus ini harus kita lihat secara kontekstual” dalih pengacara.
Tok! Tok! Tok! Lagi-lagi palu hakim berbunyi.
“Kami rasa semuanya sudah jelas di sini. Keputusan sidang terhadap kasus ini akan dibacakan tiga hari dari sekarang. Sidang ditutup.”
Tok! Tok! Tok!
Tiga hari kemudian di ruangan sidang yang sama.
“Terdakwa diharap berdiri untuk mendengarkan keputusan sidang!”
“Kami para hakim, atas nama keadilan dan kemanusiaan yang abadi, memutuskan bahwa, Terdakwa tidak bersalah karena terdakwa melakukan tindakannya atas nama kemanusiaan. Segala tuduhan dan tuntutan yang diajukan dinyatakan batal secara hukum.”
Tok, tok, tok.
“YANG MULIA!! KEPUTUSAN INI SANGAT NGAWUR, KAMI TIDAK TERIMA. KAMI AKAN MENGAJUKAN TUNTUTAN KEMBALI ATAS KASUS INI. SIDANG INI OMONG KOSONG. BULLSHIT!!!!!” teriak para jaksa marah.
“Petugas!!! Tangkap para Jaksa yang telah menghina pengadilan, masukkan mereka ke penjara. Mereka akan mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatan mereka menghina keadilan dan kemanusiaan!!” perintah para Hakim kepada petugas yang menjaga ruang sidang.
“HA…HA….HA….HA…!!!!!!!!!!! Aku menang lagi. Tak ada kasus yang tak dapat kumenangkan” tiba-tiba ia berteriak.
“Apanya yang menang? Siang-siang melamun” tegur sebuah suara.
Jogja, 2 Oktober 2002
Wendy Andhika
Selengkapnya...
Jumat, 25 Juli 2008
We wanna win coz number one is everything
Selasa, 03 Juni 2008
Gde
5 tahun yang lalu.
“aku mau ke Bali bertemu Gde”
4 tahun yang lalu.
“aku mau ke Bali bertemu Gde”
3 tahun yang lalu.
“aku mau ke Bali bertemu Gde”
2 hari yang lalu.
Seseorang datang padaku dan berkata,
“tak usah ke Bali, Gde sudah mati bersimbah darah.”
Jogja, 1 November 2003
wendy andhika
Selengkapnya...
Berita Hari Ini
Kompas hari ini: sopir taksi mati ditikam
Republika hari ini: uang SPP melonjak tajam
Suara Merdeka hari ini: Harga BBM dan tarif listrik naik lagi
Media Indonesia hari ini: 5 perampok menggasak rumah pegawai telkom
Suara Pembaruan hari ini: seorang siswi SMU meninggal tanpa busana
Kedaulatan Rakyat hari ini: pengedar ganja digerebek petugas
Berita Kota hari ini: seorang wanita muda diperkosa bergilir
Poskota hari ini: tabrakan maut 7 orang meninggal di tempat
Fajar hari ini: seorang maling babak belur dipukuli massa
Warta Ekonomi hari ini: pertumbuhan ekonomi mandeg
Bernas hari ini: seorang kakek mencabuli cucu kandung
Koran Tempo hari ini: wakil rakyat jalan-jalan ke luar negeri
Singgalang hari ini: seorang pemuda sodomi pelajar SD
Seluruh koran esok hari: seorang manusia gila akibat baca koran!!!!!!!
Jogja, 1 September 2003
wendy andhika
Selengkapnya...
Kesaktian
Di hari Kesaktian Pancasila ini, aku ingin bertanya
Lebih sakti mana Pancasila dengan Wiro Sableng?
Gamping, 1 Oktober 2002
wendy andhika
Selengkapnya...
……………
Siapakah aku?
Siapakah kamu?
Siapakah mereka?
Siapakah kita?
Apakah kita adalah manusia?
Apakah kita adalah penjaga kehidupan?
Apakah kita pernah berinstropeksi?
Bukankah kita hanyalah monster-monster rakus pelahap kemanusiaan
Bukankah kita hanyalah Dajjal-Dajjal yang bertopeng Jibril
Kita tak perlu malu untuk mengaku pada semesta alam raya,
bahwa kita bukanlah seperti yang diketahui,
karena kita adalah iblis yang lolos melarikan diri dari neraka
Jogja, 21 Mei 2002
wendy andhika
Selengkapnya...
Salam Untukmu
Di antara gemuruh ritme opera pagi, dan
di tengah alunan orkestra kota,
aku ucapkan selamat pagi untukmu.
Closet, 2 April 2002
wendy andhika
Selengkapnya...
Siluet yang Diam di Tepi Pantai
Seperti biasa, malam ini aku nongkrong lagi di pantai. Aku dari dulu sangat mencintai pantai, debur ombaknya, pohon kelapa yang melambai-lambai, pasir putihnya, kepiting-kepitingnya yang menjijikan dan sedikit sampah-sampah produk pop culture yang berguling-guling terbawa hempasan ombak.
Malam ini aku melihat sesosok siluet di tepi pantai. Duduk termenung mengarah lepas ke laut. Mataku tajam, kawan! Aku sudah sedari tadi memperhatikannya. Laki-laki itu duduk diam tak bergerak, hanya rambutnya saja yang bergerak-gerak tertiup angin malam. Matanya menatap sayu ke lautan. Umurnya pasti kurang tigapuluh tahun. Dan aku tahu apa yang terjadi padanya. PUTUS CINTA. Hahaha…..
Matanya bercerita padaku. Percaya atau tidak, aku dapat melihat permasalahan hidup seseorang dari matanya. Tidak salah jika banyak yang berkata, mata adalah jendela hati. Aduh…… ngomong-ngomong tentang jendela, sudah lima bulan ini aku belum membersihkan kaca jendela rumahku!! Selalu saja lupa untuk membersihkan kaca jendela. Sial!! Padahal aku sudah berjanji untuk membersihkannya sejak empat bulan yang lalu. Maafkan aku kacaku, yang telah melupakanmu untuk sekian lama….. Atau jika ada yang menjual kaca merek Philips, aku ganti saja kaca-kaca di rumahku. Kan seperti iklan di TV, “Philips digunakan, lalu dilupakan”.
Aku memperhatikan laki-laki itu dari balik bingkai kacamataku (bukan kacamata hitam lho, karena aku memang berkacamata sejak dulu, maklum kutu buku dan kutu game). Sebagai ungkapan belasungkawa padamu, kawan, aku akan memutarkan lagunya Richard Marx untukmu. “Semoga kau bahagia mendengarkannya”, bisikku sambil tersenyum menjijikan dan menyalakan cd player di mobilku. Volume medium. Jangan terlalu berisik, nanti mengganggu ikan-ikan yang sedang terlelap.
“Oceans apart day after day. And I slowly go insane. I hear your voice on the line. But it doesn't stop the pain.”
Hahaha …… memang sakit, kawan! Aku pun dulu merasakannya demikian. Kau merasa dirimu hancur. Badanmu mungkin akan mengigil jika tak kuat menahannya. Tapi mau tidak mau kau harus merasakannya. Enjoy the feeling, feel the the pain. Sakit yang mengalir ke seluruh tubuhmu, beradu kencang dengan aliran darah mengalir yang membuat dirimu tetap bernafas hingga hari ini dan memberi kesempatan padamu untuk merasakan sakit yang kau sendiri belum tentu mampu menjelaskan rasanya. Nikmati sakitnya! Enak bukan? Hehehe……..
“If I see you next to never. How can we say forever.”
Siapa bilang kau tidak dapat melihatnya lagi? Kau dapat saja bertemu dengannya dimana saja. Di jalan, di kafe, di mall, di halte, di terminal, di bandara, di jembatan penyeberangan, atau mungkin saja lima menit lagi kau akan bertemu dengannya di pantai ini. Kau dapat bertemu dengannya dimana saja tapi yang pasti kau sudah tidak bersamanya lagi, itu yang membuatmu sakit. Sangat menyakitkan!!!! Hahaha…….!!!!!
Siluet itu masih saja diam. Tak bergerak kecuali rambutnya yang bergoyang-goyang tertiup angin. Cahaya bulan yang redup memantul di permukaaan laut. Dan mata siluet masih menatap jauh ke balik horizon.
“Kau ingin menangis? Menangis saja, ini negara demokrasi, bung!”, ujarku. Kau dapat melakukan apa saja sejauh tidak merugikan orang lain. Dan aku pikir menangis tidak merugikan siapa pun. Dan tidak ada larangan bagi seorang laki-laki untuk menangis kecuali jika kau penganut patriarkhisme. Menangis saja, keparat!! Tidak ada yang akan memenjarakanmu hanya gara-gara menangis! Kecuali jika kau menangis sambil menenteng AK-47 dan memuntahkan isinya kepadaku. Hehehe……..
Kini apa yang kau harapkan lagi, ha?! Apa kau mengharapkan hempasan ombak akan mengembalikannya padamu? Atau kau mengharapkan daun-daun nyiur yang melambai-lambai tertiup angin akan memanggilnya kembali untukmu?
“Oh, can't you see it baby. You've got me goin' crazy. Wherever you go. Whatever you do. I will be right here waiting for you. Whatever it takes. Or how my heart breaks. I will be right here waiting for you.”
Kau merasa gila? Yaa! Itu sebabnya kenapa aku mengatakan jika kau membawa AK-47 sambil menangis dan memuntahkan isinya kepadaku, kau akan masuk penjara. Aku berusaha mengingatkanmu untuk tidak berbuat gila. Jika kau melakukannya, kau akan dipenjara duapuluh tahun. Dan tidak enak kan menunggu pacarmu kembali padamu dari dalam penjara? Duapuluh tahun, lagi…..ck ck ck ck……..berat, man! Itu pun kalau dia mau kembali padamu.
Ooh! Ternyata Richard Marx telah berhenti bernyanyi, kawan. Dan kau tampaknya belum sembuh juga, baiklah aku akan membuatkan sebuah puisi untukmu. Tunggu sebentar aku akan mengambil pensil dan secarik kertas untukmu. Kau diam saja di sana, tetaplah memandang horizon, mungkin saja pacarmu tiba-tiba muncul sambil naik sampan dari balik langit malam. Hahaha…….
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Ok! Ini dia puisiku untukmu.
Layang-layangku putus, putri
Mungkin karena benangnya kurang
Bagus
Atau mungkin juga karena
Aku tak bisa memainkannya
Layang-layangku putus, putri
Aku ingin mengejarnya kembali
Tapi, anak desa seberang kali
Sudah mengambilnya
Aku sudah tidak berhak lagi atas layang-layang itu
Karena begitulah aturannya
Kau tahu kan aturan itu, putri?
Layang-layangku putus, putri
Dan aku tidak punya layang-layang lain
Karena itu adalah layang-layangku yang terbaik
Layang-layangku putus, putri
Dan aku kini hanya bisa
Melihatnya saja
Dimainkan oleh anak seberang kali
Layang-layangku putus, putri
Aku ingin mendapatkannya kembali
Karena aku sayang sekali pada
Layang-layangku itu
Apakah itu mungkin, putri?
Aku bertanya padamu
Mungkin kau bisa menjawabnya
Layang-layangku putus, putri
Entah kembali, entah tidak
Bagaimana, sahabat? Apakah kau merasa agak baikan setelah mendengar puisiku tadi? Jika tidak, maafkan aku. Aku sudah tidak punya ide lain untuk membantumu. Kreativitasku mentok. Dan kini aku harus segera pulang, jarum jamku sudah menunjuk pukul dua malam. Hari telah berganti. Esok hari aku masih punya setumpuk aktivitas. Please, jangan marah, kawan, jika kau kutinggal sendirian kini. Aku sebenarnya tak tega tapi keadaan memaksaku demikian.
Selamat tinggal…….
Jakarta, 3 Desember 2004
wendy andhika
Selengkapnya...



